Sulawesi Barat

Dari Krisis Ekologis Sendana ke Panggung Nasional, BEM Nusantara Sulbar Tantang Mahasiswa Kembali ke Khittah Perjuangan

×

Dari Krisis Ekologis Sendana ke Panggung Nasional, BEM Nusantara Sulbar Tantang Mahasiswa Kembali ke Khittah Perjuangan

Sebarkan artikel ini

MAJENE, SULAWESI BARAT — Gerakan mahasiswa kembali diuji. Di tengah menguatnya pragmatisme dan berbagai persoalan sosial, politik, serta lingkungan, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara Sulawesi Barat bersama BEM Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) menggelar dialog publik bertajuk “Menolak Pragmatisme, Mengembalikan Khittah Gerakan Mahasiswa sebagai Agent of Change dan Iron Stock” di Neo Alternative, Majene, Rabu (28/10/2026) malam.

Momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda tersebut tidak sekadar menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga panggung refleksi untuk menguji kembali keberpihakan dan tanggung jawab moral mahasiswa terhadap persoalan rakyat.

Salah satu isu yang mencuat dalam forum tersebut adalah krisis ekologis, khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene. Persoalan ini menjadi gambaran nyata bahwa krisis lingkungan bukan sekadar isu wacana, melainkan persoalan serius yang membutuhkan perhatian, keberanian, dan tindakan nyata.

Dalam keynote speech, Koordinator Daerah BEM Nusantara Sulawesi Barat, Andi Farhan Nafis, menegaskan bahwa forum tersebut harus menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus mengukur kepedulian mahasiswa terhadap berbagai persoalan yang terjadi di daerah.

“Kami dari BEM Nusantara Sulbar, di momentum Sumpah Pemuda ini ingin melihat tingkat kepedulian teman-teman mahasiswa terhadap krisis yang terjadi beberapa waktu kemarin. Oleh karena itu, kami berharap kehadiran teman-teman di forum ini tidak hanya menunjukkan fisik di dalam lingkaran, tetapi juga menghadirkan pemikiran yang bisa membersamai seluruh elemen gerakan mahasiswa,” tegasnya.

Menurutnya, gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti pada simbolisme kehadiran maupun mobilisasi massa. Mahasiswa harus kembali menghidupkan tradisi intelektual, memperkuat literasi, serta membangun keberanian untuk mengawal persoalan masyarakat secara konsisten.

Dialog tersebut menghadirkan Presiden Mahasiswa Universitas Sulawesi Barat, Suriani, dan alumni Unsulbar, Asrul Mawardi, S.H., sebagai pemateri.

Dalam pemaparannya, Suriani menekankan pentingnya mengembalikan idealisme dan orientasi gerakan mahasiswa agar tetap berpihak kepada kepentingan rakyat. Mahasiswa harus mampu menjaga independensi, mempertahankan daya kritis, serta tidak mudah terseret kepentingan pragmatis yang dapat menggerus nilai-nilai perjuangan.

Sementara itu, Asrul Mawardi, S.H., turut mengulas arah gerakan mahasiswa dalam merespons berbagai persoalan daerah, termasuk ancaman terhadap keberlanjutan lingkungan. Isu karhutla di Kecamatan Sendana menjadi salah satu perhatian penting yang memperlihatkan perlunya keterlibatan mahasiswa dalam membangun kesadaran ekologis dan mendorong penyelesaian persoalan secara berkelanjutan.

Diskusi berlangsung dinamis dengan keterlibatan sejumlah peserta. Alwi secara khusus mengangkat persoalan karhutla di Sendana, sementara Sahar mempertanyakan langkah konkret yang dapat dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekologi.

Berbagai pandangan tersebut mengerucut pada pentingnya langkah nyata, mulai dari peninjauan langsung ke lokasi, penguatan advokasi lingkungan, edukasi masyarakat, hingga membangun koordinasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan terkait.

BEM Nusantara Sulawesi Barat juga menyatakan komitmennya untuk mendorong keterlibatan langsung para pemangku kebijakan di Kabupaten Majene dalam forum dialog berikutnya. Hasil diskusi diharapkan tidak berhenti sebagai catatan akademik, tetapi dapat dirumuskan menjadi rekomendasi yang disampaikan kepada pemerintah sebagai bahan pertimbangan dalam merespons persoalan daerah.

DARI RUANG DISKUSI MENUJU AKSI NYATA

Dialog ini menjadi pengingat bahwa predikat mahasiswa sebagai Agent of Change dan Iron Stock bukan sekadar jargon yang diwariskan dari generasi ke generasi. Identitas tersebut harus dibuktikan melalui keberanian berpikir kritis, keberpihakan kepada masyarakat, serta kesanggupan mengawal perubahan.

Krisis ekologis di Sendana menjadi salah satu ujian konkret bagi gerakan mahasiswa Sulawesi Barat. Ketika lingkungan menghadapi ancaman, mahasiswa tidak cukup hanya bersuara di ruang diskusi. Mereka dituntut hadir, melakukan kajian, membangun advokasi, dan mengawal kebijakan agar kepentingan masyarakat serta kelestarian lingkungan tidak terabaikan.

Semangat Sumpah Pemuda harus diterjemahkan menjadi gerakan yang melampaui seremoni. Persatuan, intelektualitas, dan keberanian mengambil sikap menjadi modal penting untuk membangun gerakan mahasiswa yang independen, progresif, dan berpihak pada kepentingan publik.

Dari Majene, keresahan terhadap persoalan lokal diharapkan menjadi energi bagi lahirnya gerakan yang lebih luas. Sebab, perubahan besar tidak selalu dimulai dari panggung nasional, tetapi bisa berawal dari keberanian anak muda memperjuangkan persoalan di daerahnya sendiri.(Hamsir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!