Metronewstv.ID |Pemerintah Kota Metro melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mempercepat distribusi air bersih ke wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan selama musim kemarau. Hingga pertengahan Agustus 2026, BPBD telah menyalurkan 35.000 liter air bersih kepada warga di empat kelurahan yang mengalami kekeringan sumur.
Langkah cepat tersebut dilakukan sebagai respons darurat atas meningkatnya kebutuhan air bersih masyarakat di Kecamatan Metro Timur dan Metro Barat. Namun, data BPBD menunjukkan bahwa seluruh titik distribusi masih berstatus “masih butuh”, sehingga suplai air bersih harus terus dilakukan secara berkelanjutan.
Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kota Metro, Arwansyah, S.IP., M.M., mengatakan pihaknya bersama Satgas Pencegahan dan Kesiapsiagaan turun langsung ke lapangan untuk memastikan distribusi air bersih berjalan cepat dan tepat sasaran.
“Beberapa titik mengalami kekeringan air pasca musim kemarau. Kami terus memantau kondisi di lapangan agar masyarakat yang membutuhkan dapat segera terlayani,” kata Arwansyah kepada Metronewstv.ID, Kamis (13/8/2026).
Berdasarkan rekapitulasi mingguan BPBD periode Juli–Agustus 2026, distribusi air bersih telah dilakukan 35 kali dropping di Kelurahan Iringmulyo, Yosorejo, Ganjarasri, dan Mulyojati. Total air bersih yang disalurkan mencapai 35.000 liter, sementara kebutuhan rata-rata di wilayah terdampak mencapai 42.000 liter per hari.
Data tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan air bersih, sehingga penanganan kekeringan masih memerlukan suplai lanjutan. Kelurahan Iringmulyo menjadi salah satu wilayah yang membutuhkan distribusi berulang, sedangkan Yosorejo dan Ganjarasri tercatat sebagai lokasi dengan frekuensi dropping yang cukup tinggi.
Laporan harian BPBD mencatat distribusi air bersih telah menjangkau 56 kepala keluarga (KK) atau 306 jiwa. Seluruh distribusi menggunakan sumber air dari sumur bor dan dilaksanakan oleh Satgas BPBD bersama relawan.
Meski pemerintah bergerak cepat, kondisi ini memperlihatkan bahwa dropping air bersih masih bersifat penanganan darurat, bukan solusi jangka panjang terhadap persoalan kekeringan. Ketergantungan pada distribusi air menunjukkan perlunya penguatan infrastruktur sumber air, peningkatan kapasitas cadangan air bersih, serta mitigasi menghadapi musim kemarau yang diperkirakan semakin ekstrem.
Arwansyah mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara hemat, menyimpan cadangan air bersih, dan segera melapor kepada aparat kelurahan atau BPBD apabila sumur mulai mengering.
“Kami mengajak masyarakat menggunakan air secara bijak. Jika ada wilayah yang mengalami kesulitan air bersih, segera laporkan agar dapat dilakukan asesmen dan penanganan,” ujarnya.
Respons cepat BPBD patut diapresiasi karena mampu menjaga pasokan air bagi warga terdampak. Namun, pemerintah daerah juga dituntut memperkuat langkah antisipatif agar setiap musim kemarau tidak selalu dihadapi dengan pola penanganan darurat.
Pemerintah Kota Metro berharap distribusi air bersih dapat meringankan beban masyarakat, sementara warga diharapkan memperkuat kepedulian terhadap penghematan air dan semangat gotong royong. Dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, dampak kekeringan diharapkan dapat ditekan sehingga kebutuhan air bersih tetap terpenuhi dan ketahanan daerah menghadapi musim kemarau menjadi lebih baik.(Red)












