MALAKA, Metro Newstv.ID — Perarakan Patung Bunda Maria yang melintasi wilayah Kabupaten Malaka menuju Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, pada Kamis (15/10/2026), menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan, menjaga tradisi iman, dan merawat kerukunan masyarakat di wilayah perbatasan.
Perjalanan rohani tersebut dimulai dari perbatasan Desa Naiusu, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka. Umat kemudian mengiringi Patung Bunda Maria melewati Desa Lotas hingga Desa Benahe, Kabupaten TTS, sebelum tiba di Stasi Lingkungan Kapela Santo Agustinus Benahe.
Bagi masyarakat di kawasan perbatasan, kegiatan ini bukan sekadar prosesi keagamaan. Ikatan kekerabatan, sejarah leluhur, dan hubungan sosial yang telah terjalin sejak lama menjadi bagian penting yang mempertemukan warga dari kedua kabupaten.
Diiringi doa dan kidung pujian, umat Katolik mengikuti perarakan dengan khidmat. Tradisi tersebut menjadi ruang perjumpaan untuk memperkuat kebersamaan sekaligus memelihara nilai-nilai persaudaraan yang diwariskan antargenerasi.
Camat Kokbaun Turut Mengawal Perarakan
Perarakan tersebut turut dihadiri Camat Kokbaun, Andy Kalumbang, yang membersamai dan mengawal kegiatan bersama unsur masyarakat.
Kehadiran pemerintah kecamatan menjadi bagian dari dukungan terhadap kegiatan keagamaan dan upaya menjaga suasana aman, tertib, serta harmonis di tengah masyarakat.
Dalam kegiatan yang melintasi wilayah berbeda ini, koordinasi dan keterlibatan masyarakat memiliki peran penting agar prosesi berlangsung lancar. Kebersamaan antara umat, pemerintah, dan unsur masyarakat juga mencerminkan pentingnya menjaga hubungan baik di kawasan perbatasan.
Iman Menjadi Jembatan Persaudaraan
Perarakan dari Naiusu hingga Benahe membawa pesan bahwa batas administratif tidak harus menjadi penghalang bagi hubungan kekeluargaan dan solidaritas masyarakat.
Bagi generasi muda, tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya menghormati sesama, menjaga kerukunan, serta merawat nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
Perjalanan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kehidupan beragama dapat berjalan beriringan dengan semangat persatuan dan kebersamaan. Perbedaan wilayah pemerintahan tidak menghapus ikatan sosial yang telah tumbuh di tengah masyarakat.
Dari Desa Naiusu hingga Benahe, perarakan Patung Bunda Maria menjadi simbol perjalanan iman sekaligus persaudaraan. Di tengah batas wilayah, kebersamaan tetap menjadi kekuatan untuk merawat kerukunan dan membangun kehidupan masyarakat yang damai.
(Roy S/Metro Newstv.ID)






