NUSA TENGGARA TIMUR

Keringat di Teras Iman, Gotong Royong Jemaat GMIT Musafir Bersama Babinsa Henry Rumamalete

×

Keringat di Teras Iman, Gotong Royong Jemaat GMIT Musafir Bersama Babinsa Henry Rumamalete

Sebarkan artikel ini

Metronewstv.id | Malaka (Nusa Tenggara Timur) – Di bawah terik matahari Desa Bone Tasea, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, Selasa (20/10/2026), puluhan jemaat Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Musafir Kota Bone menyatukan tenaga untuk satu tujuan mulia. Mereka bergotong royong mengerjakan pengecoran teras gereja, membuktikan bahwa sebuah bangunan tidak hanya berdiri karena kuatnya semen dan besi, tetapi juga karena kokohnya persaudaraan, ketulusan, dan semangat untuk saling menopang.

 

Di antara jemaat yang sibuk mengangkat material, mengaduk campuran semen, dan meratakan beton, tampak seorang prajurit TNI ikut bekerja tanpa sekat. Dialah Sersan Satu (Sertu) Henry Rumamalete, Babinsa Koramil 1605-09/Biudukfoho, yang turun langsung membantu jemaat menyelesaikan pekerjaan pengecoran teras gereja.

 

Tanpa harus berdiri di pinggir untuk sekadar memberi arahan, Sertu Henry memilih berada di tengah-tengah jemaat. Tangannya ikut bekerja, tenaganya menyatu dengan tenaga warga, sementara keringat yang mengalir menjadi saksi bahwa kepedulian tidak selalu harus diungkapkan melalui kata-kata. Terkadang, kepedulian justru paling jujur ketika diwujudkan melalui tindakan nyata.

 

Di tempat itu, tidak ada jarak antara seorang prajurit dan masyarakat. Yang terlihat hanyalah manusia-manusia yang saling membantu demi menyelesaikan pekerjaan bersama.

 

Pengecoran teras gereja tersebut menghadirkan pelajaran sederhana, tetapi mendalam tentang makna kehidupan. Bahwa kebersamaan bukan sekadar berkumpul di tempat yang sama, melainkan kesediaan untuk memikul beban yang sama.

 

Filsuf Albert Camus, melalui pemikirannya tentang perjuangan manusia menghadapi kehidupan, mengingatkan bahwa makna tidak selalu ditemukan dalam kemenangan besar atau peristiwa yang luar biasa. Makna juga tumbuh dalam perjuangan sehari-hari, ketika seseorang memilih untuk tetap bekerja, bertahan, dan memberikan sesuatu yang berguna bagi sesamanya.

 

Semangat itu seolah menemukan wujudnya di pelataran GMIT Musafir Kota Bone. Sekop yang diayunkan, adukan beton yang dipindahkan, dan peluh yang diseka dari dahi menjadi bahasa universal tentang pengabdian.

 

Sebab, pada akhirnya, nilai seseorang tidak hanya diukur dari apa yang dikatakannya, tetapi juga dari apa yang bersedia dilakukannya bagi orang lain.

 

Terik matahari yang menyengat akhirnya membuat para jemaat beristirahat sejenak. Mereka menepi di bawah naungan seadanya, menyeka keringat, melepas lelah, dan menikmati waktu untuk berbincang setelah bekerja bersama.

 

Suasana yang sebelumnya dipenuhi kesibukan perlahan berubah menjadi keakraban. Gelak tawa terdengar di antara percakapan ringan. Di sela-sela istirahat itu, sejumlah jemaat saling bertukar cerita dan mengenang perjalanan pembangunan gereja yang selama ini mereka perjuangkan bersama.

 

Di tengah obrolan tersebut, muncul ungkapan terima kasih kepada Sertu Henry Rumamalete. Beberapa jemaat tampak saling memuji semangat dan kepeduliannya karena dinilai telah memberikan kontribusi berarti bagi pembangunan rumah ibadah mereka.

 

“Untung ada Pak Henry datang di saat kita mulai membangun gedung gereja ini,” ungkap seorang jemaat dengan nada penuh syukur.

 

Menurut jemaat tersebut, keterlibatan Sertu Henry bukan hanya terlihat pada pekerjaan fisik, tetapi juga dalam dukungan yang diberikan sejak proses awal pembangunan gereja.

 

“Kalau kita sendiri yang kerjakan, tidak mungkin gedung sebesar ini akan rampung. Berkat campur tangan Pak Henry, mulai dari usaha mencari dana sampai gedung selesai, dan sekarang kita mulai mencor teras. Semoga Tuhan memberkati Pak Henry dalam setiap tugas dan tanggung jawabnya kepada nusa dan bangsa,” tuturnya.

 

Ungkapan sederhana itu disambut anggukan dan senyuman jemaat lainnya. Bagi mereka, ucapan terima kasih tersebut bukan sekadar bentuk penghargaan kepada seorang prajurit, melainkan ungkapan ketulusan atas bantuan yang mereka rasakan dalam perjalanan membangun gereja.

Di sela-sela istirahat, ketika tenaga mulai terkuras dan matahari masih terasa menyengat, penghargaan itu mengalir secara alami. Tidak ada panggung, tidak ada seremoni, dan tidak diperlukan pidato panjang. Ada pekerjaan yang dilakukan bersama, ada bantuan yang dirasakan, serta ada rasa syukur yang tumbuh dari hati masyarakat.

Momen tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan tidak dibangun hanya melalui jabatan atau seragam yang dikenakan. Kepercayaan tumbuh ketika kehadiran seseorang benar-benar membawa manfaat dan ketika kepeduliannya dapat dirasakan secara langsung.

Bagi jemaat GMIT Musafir Kota Bone, pengecoran teras gereja bukan semata-mata pekerjaan konstruksi untuk memperindah atau melengkapi bangunan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan iman dan kebersamaan jemaat dalam membangun rumah ibadah yang mereka cintai.

Setiap orang yang terlibat menyumbangkan sesuatu sesuai kemampuannya. Ada yang mengandalkan tenaga, ada yang membantu menyiapkan material, dan ada pula yang memberikan dukungan dalam bentuk lain. Ketika semua kontribusi itu bertemu, pekerjaan yang berat terasa lebih ringan.

Dalam perspektif sosiologi, semangat tersebut mencerminkan modal sosial (social capital), yakni kepercayaan, jaringan hubungan, dan solidaritas yang memungkinkan masyarakat bergerak bersama untuk mencapai tujuan bersama.

Sementara itu, dalam gagasan Gemeinschaft atau paguyuban, ikatan antar manusia tumbuh melalui kedekatan, rasa memiliki, dan hubungan batin yang tidak semata-mata didasarkan pada kepentingan pribadi.

Nilai-nilai itu tampak dalam gotong royong jemaat GMIT Musafir Kota Bone. Mereka tidak hanya membangun teras, tetapi juga memperkuat ikatan persaudaraan di antara sesama jemaat dan masyarakat yang terlibat.

Sebab, sebuah rumah ibadah akan terasa semakin bermakna ketika pembangunannya menjadi ruang perjumpaan, tempat orang belajar berbagi tenaga, menghargai perbedaan, dan menghidupi kasih melalui perbuatan nyata.

Keterlibatan Sertu Henry Rumamalete dalam kegiatan tersebut juga memperlihatkan sisi pengabdian seorang Babinsa yang hadir di tengah kehidupan masyarakat.

Sebagai aparat kewilayahan, Babinsa tidak hanya menjalankan tugas yang berkaitan dengan pembinaan teritorial dan ketahanan wilayah. Kehadiran di tengah masyarakat juga membuka ruang bagi tumbuhnya komunikasi, kepercayaan, dan hubungan yang erat antara TNI dan rakyat.

Apa yang dilakukan Sertu Henry di pelataran gereja menjadi gambaran bahwa kedekatan antara aparat dan masyarakat dapat dibangun melalui tindakan sederhana yang menyentuh kebutuhan bersama.

Di tengah jemaat yang sedang bekerja, ia tidak menempatkan dirinya sebagai orang yang hanya menyaksikan dari kejauhan. Ia ikut mengambil bagian, menyumbangkan tenaga, dan membangun kebersamaan melalui pekerjaan yang dilakukan bersama-sama.

Dari sinilah makna kemanunggalan TNI dan rakyat menemukan bentuknya yang nyata. Bukan hanya sebagai semboyan yang terdengar dalam berbagai kesempatan, melainkan sebagai hubungan yang dipelihara melalui kehadiran, kepedulian, dan kerja bersama.

Namun, lebih dari persoalan jabatan dan tugas, ada nilai kemanusiaan yang patut dipetik dari peristiwa tersebut: bahwa siapa pun dapat menjadi berarti bagi sesamanya ketika bersedia hadir dan membantu dengan tulus.

Pengecoran teras GMIT Musafir Kota Bone mungkin akan selesai ketika adukan beton mengeras dan permukaannya menjadi kokoh. Suatu hari nanti, jemaat akan melangkah di atas teras itu untuk beribadah, berkumpul, dan menjalani berbagai kegiatan gerejawi.

Namun, di balik beton yang mengeras, tersimpan kisah yang tidak akan terlihat oleh mata. Ada tenaga yang telah dicurahkan, ada persaudaraan yang dipererat, ada ungkapan syukur yang lahir secara spontan, dan ada doa yang dipanjatkan bagi mereka yang telah mengambil bagian dalam pekerjaan tersebut.

Teras itu kelak bukan hanya menjadi bagian dari bangunan gereja. Ia juga dapat menjadi pengingat bahwa sesuatu yang dibangun bersama memiliki nilai lebih daripada sesuatu yang sekadar selesai dikerjakan.

Sebab, semen dan besi dapat menyatukan material menjadi sebuah bangunan, tetapi ketulusan lah yang menyatukan manusia menjadi sebuah keluarga.

Di bawah terik matahari Malaka, jemaat GMIT Musafir Kota Bone bersama Sertu Henry Rumamalete memberikan pelajaran berharga bahwa iman tidak hanya hidup dalam doa dan nyanyian pujian. Iman juga menemukan wujudnya ketika tangan bersedia bekerja, kaki melangkah untuk membantu, dan hati tergerak untuk meringankan beban sesama.

Pada akhirnya, sejarah sebuah gereja bukan hanya tentang kapan bangunannya didirikan atau seberapa megah bentuknya. Sejarah itu juga hidup dalam cerita orang-orang yang pernah mencurahkan tenaga untuk membangunnya.

Dan pada Selasa, 20 Oktober 2026, di Desa Bone Tasea, cerita itu ditulis melalui keringat, sekop, adukan beton, tawa di sela-sela istirahat, dan semangat gotong royong yang menyatukan jemaat dengan seorang prajurit TNI.

Karena bangunan dapat berdiri oleh kekuatan material, tetapi persaudaraan hanya akan tetap kokoh jika terus dirawat oleh ketulusan.

 

Reporter: Roy S/Kupang NTT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!