BATAM – Puluhan warga Teluk Mata Ikan dan Kapling Sambau, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, menggelar aksi protes akibat pasokan air bersih yang tak kunjung mengalir ke permukiman mereka.
Aksi tersebut berlangsung di depan pintu masuk Nongsa Digital Park (NDP). Warga, yang didominasi kaum ibu, membawa ember, galon, serta berbagai wadah penampungan air sebagai bentuk protes sekaligus menggambarkan kondisi kesulitan mendapatkan air bersih.
Aksi dimulai sejak pagi hingga siang hari. Warga memilih bertahan di lokasi lantaran mobil tangki air yang sebelumnya dijanjikan belum kunjung tiba.
Dalam aksi tersebut, warga didampingi Lurah Sambau dan Kapolsek Nongsa beserta jajaran kepolisian. Aparat turut melakukan pengamanan guna memastikan aksi berjalan tertib dan kondusif.
Salah seorang perwakilan pengelola air, Manager Air Batam Hilir (ABH), menjelaskan gangguan pasokan air disebabkan turunnya produksi pada Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM).
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak terhadap pelayanan air bersih bagi masyarakat Kelurahan Sambau dan wilayah sekitarnya.
“Gangguan pasokan air disebabkan turunnya produksi IPAM sehingga berdampak terhadap masyarakat Kelurahan Sambau dan sekitarnya,” jelasnya.
Selain penurunan produksi IPAM, kondisi sumber air di Danau Sambau juga disebut mengalami kekeringan. Sebagai salah satu langkah penanganan, pengelola air akan melakukan interkoneksi jaringan dari Duriangkang untuk membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat.
Untuk penanganan jangka pendek, pihak pengelola menjanjikan pengiriman delapan unit mobil tangki air ke wilayah terdampak.
Distribusi air tangki tersebut mendapat pengawalan dari Kapolsek Nongsa bersama jajaran untuk memastikan proses penyaluran berjalan tertib dan tepat sasaran.
Namun, situasi sempat memanas ketika terjadi ketegangan antara warga dengan sejumlah pekerja di kawasan Data Centre. Warga sempat meminta akses pekerja menuju lokasi kerja ditahan sampai pihak pengelola air memberikan kepastian terkait pemulihan pasokan air.
Setelah pihak pengelola air memberikan penjelasan serta jaminan bahwa pasokan air ditargetkan kembali mengalir dalam waktu 24 jam, warga akhirnya menerima penjelasan tersebut.
Warga kemudian membubarkan diri secara tertib setelah mendapatkan kepastian mengenai langkah penanganan gangguan pasokan air.
Aksi tersebut menjadi bentuk keresahan masyarakat yang terdampak gangguan pelayanan air bersih. Warga berharap solusi yang dijanjikan tidak berhenti pada distribusi air tangki sementara, tetapi diikuti pemulihan pasokan air secara normal dan berkelanjutan.(Andi)












