PROVINSI MALUKU

PLTS Desa Wasarily Mati Sebelum PLN Masuk, Warga Sempat Bertahan dengan Biaya Sendiri

×

PLTS Desa Wasarily Mati Sebelum PLN Masuk, Warga Sempat Bertahan dengan Biaya Sendiri

Sebarkan artikel ini

MALUKU BARAT DAYA — Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang sebelumnya menjadi tumpuan penerangan warga Desa Wasarily, Kabupaten Maluku Barat Daya, kini tidak lagi berfungsi. Ironisnya, fasilitas energi terbarukan tersebut dilaporkan berhenti beroperasi jauh sebelum jaringan listrik PT PLN (Persero) masuk dan melayani desa pada 22 September 2026.

Kondisi tersebut sempat membuat masyarakat kembali menghadapi keterbatasan pasokan listrik. Program PLTS yang sebelumnya diharapkan menjadi solusi kebutuhan energi warga justru tidak dapat dimanfaatkan ketika jaringan PLN belum menjangkau desa.

Sejumlah panel surya yang dahulu terpasang untuk memenuhi kebutuhan penerangan rumah warga kini tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Persoalan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana perawatan, pengawasan, dan keberlanjutan fasilitas PLTS setelah dibangun dan digunakan masyarakat.

Pasalnya, fasilitas energi terbarukan tidak cukup hanya dibangun. Tanpa pemeliharaan, penggantian komponen, serta kejelasan pihak yang bertanggung jawab, aset yang dibangun menggunakan sumber daya publik berisiko kehilangan manfaat sebelum program pengganti tersedia.

Warga Terpaksa Keluar Biaya Sendiri

Ketika PLTS tidak lagi berfungsi, warga Desa Wasarily tidak tinggal diam. Masyarakat berupaya memenuhi kebutuhan listrik secara mandiri agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan.

Sebagian warga menggunakan genset untuk memperoleh penerangan, sementara warga lainnya membeli panel surya baru menggunakan biaya pribadi.

Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa masyarakat harus mencari solusi sendiri ketika fasilitas energi yang sebelumnya menjadi andalan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan listrik.

Pertanyaannya, siapa yang bertanggung jawab memastikan PLTS tersebut tetap berfungsi selama masyarakat masih membutuhkannya?

Jika PLTS merupakan bagian dari program pemerintah, aspek pemeliharaan dan keberlanjutan semestinya menjadi perhatian sejak awal. Jangan sampai pembangunan fasilitas berhenti pada pemasangan infrastruktur, sementara setelah terjadi kerusakan masyarakat dibiarkan mencari solusi sendiri.

PLN Akhirnya Masuk

Setelah melalui penantian, jaringan listrik PLN akhirnya masuk dan mulai melayani masyarakat Desa Wasarily pada 22 September 2026.

Kehadiran listrik PLN disambut positif oleh warga. Namun, layanan yang tersedia saat ini masih terbatas. Listrik disebut baru menyala sekitar pukul 18.00 hingga 06.00 WIT setiap hari.

Meski belum tersedia selama 24 jam, masuknya jaringan PLN memberikan perubahan berarti bagi masyarakat yang sebelumnya harus bergantung pada genset maupun panel surya mandiri.

Namun demikian, persoalan PLTS lama tidak semestinya otomatis dianggap selesai hanya karena jaringan PLN telah masuk.

Status aset, penyebab kerusakan, biaya pembangunan sebelumnya, riwayat pemeliharaan, serta rencana pemanfaatan atau penanganan fasilitas PLTS perlu dijelaskan secara terbuka.

Apalagi, pembangunan energi terbarukan di daerah terpencil pada dasarnya bertujuan menghadirkan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Ketika fasilitas tersebut berhenti berfungsi sebelum jaringan listrik utama tersedia, evaluasi terhadap efektivitas program menjadi penting.

Warga berharap peningkatan layanan PLN ke depan tidak hanya memperpanjang waktu penyalaan, tetapi juga diikuti perhatian terhadap keberadaan fasilitas energi terbarukan yang pernah menjadi tumpuan masyarakat.

Jangan sampai PLTS yang pernah dibangun untuk menerangi Desa Wasarily hanya berakhir sebagai aset yang terpasang tetapi kehilangan manfaat. Pemerintah terkait perlu menjelaskan penyebab kerusakan, pola pemeliharaan, status aset, serta langkah penanganannya agar pengalaman serupa tidak kembali terjadi di wilayah lain.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!