MAGELANG, Metronewstv.ID — Komunitas Lintang Panjer kembali menunjukkan komitmennya dalam merawat seni dan budaya daerah melalui pentas kolaborasi seni di Dinas Perpustakaan Daerah Kabupaten Magelang, Sabtu (12/9/2026).
Dipimpin Drs. Agus Yuwono, komunitas tersebut menghadirkan pertunjukan yang memadukan sejumlah cabang seni, mulai dari musik tradisional, tari, geguritan, monolog hingga pembacaan cerita cekak (cerkak).
Pentas diawali lantunan musik siter yang berpadu dengan tembang Dhandhanggula. Nuansa tradisional tersebut menjadi pembuka sebelum pertunjukan berkembang pada perpaduan sastra, gerak tari, musik dan seni peran.
Penampilan geguritan yang dipadukan dengan tari dan musik menjadi salah satu bagian yang memperlihatkan bagaimana sastra Jawa dapat dikemas dalam bentuk pertunjukan yang lebih komunikatif. Sementara monolog dan pembacaan cerkak melengkapi rangkaian pentas dengan kekuatan cerita dan ekspresi.
Ketua Komunitas Lintang Panjer, Drs. Agus Yuwono, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya komunitas untuk terus memberi ruang bagi seni, sastra dan budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat.
“Kami ingin seni dan sastra tidak hanya menjadi sesuatu yang disimpan, tetapi terus dipentaskan, dikenalkan dan diwariskan kepada masyarakat, terutama generasi muda,” ujar Agus Yuwono.
Menurutnya, kolaborasi berbagai bentuk kesenian juga menjadi cara untuk memperluas apresiasi masyarakat terhadap kekayaan budaya lokal.
“Musik, tari, geguritan, monolog dan cerkak memiliki kekuatan masing-masing. Ketika dipadukan, semuanya dapat menjadi satu pertunjukan yang menarik sekaligus memiliki nilai edukasi dan budaya,” katanya.
Seni Bertemu Gerakan Literasi
Kegiatan tersebut tidak berhenti pada pentas seni. Komunitas Lintang Panjer juga menyerahkan sejumlah buku karya Lintang Panjer kepada Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Magelang.
Penyerahan buku itu menjadi bagian penting dari kegiatan karena mempertemukan seni pertunjukan dengan gerakan literasi.
Agus menyebut buku dan karya seni merupakan dua medium yang dapat berjalan beriringan dalam memperkenalkan budaya kepada masyarakat.
“Kami berharap karya-karya yang diserahkan ini dapat menjadi bagian dari koleksi perpustakaan dan bisa dibaca masyarakat. Seni dan literasi harus berjalan bersama karena keduanya sama-sama menjadi jalan untuk memperkenalkan dan menjaga kebudayaan,” ungkapnya.
Pentas Lintang Panjer sekaligus menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan melalui satu bentuk kegiatan. Seni pertunjukan, sastra dan literasi dapat dipadukan menjadi ruang kreatif yang lebih dekat dengan masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, Komunitas Lintang Panjer berharap keberadaan seni dan sastra Jawa tetap mendapat tempat di tengah perkembangan zaman. Bukan sekadar mengenang budaya masa lalu, tetapi menjadikannya tetap hidup, dipentaskan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.(Ichsan)












